Bayang-Bayang

Selasa, 07 Juni 2011

Jalan Lain..

Kita mencintai yang sama, kita menginginkan hal yg sama,tak ada pecundang apalagi pemenang. 
Tapi jika tak bisa jalan bersama maaf jika ada yang memiih jalan sendiri..

Kita menuju ke tempat yang sama tapi jalan terkadang berbeda.
Satu jalan menutup banyak hal. satu jalan tak memberi banyak ruang.
Tak ada yang lebih tak ada yang kurang tak ada yang lebih unggul dari semua.
Semua tercipta dari yang sama, semua diatur oleh yang sama..

Berbeda..cara kadang berbeda, ada yang memilih caranya sendiri.
Tak perlu kau menghakimi cara lain. Cukuplah kau bertanya jika itu perlu.
Memilih cara yang umum atau memilih cara yang tak biasa, tak perlu kau risau. 

Jalan itu terhampar dan bercabang, tapi memang diciptakan begitu.
dan ada jalan terkadang jarang dilalui.
Tak biasa, terjal dan sunyi.
Sepi, jauh dari hingar bingar..

Namun tujuan kita tetap sama.
dan berjalan di bumi yang satu..

Sabtu, 21 Mei 2011

Jangan Hempaskan Resahmu Di Gunung...

Jangan salahkan ombak di laut
Jangan sesalkan gelapnya goa
Jangan membendung arus sungai
Jangan mengutuk kerasnya tebing
Jangan mengeluhkan badai di gunung

Kau tak memiliki apa-apa
Kau tak memberi apa-apa
Kau tak menanamkan apa-apa
Kau tak meninggalkan apa-apa
Kau tak mengubah apa-apa

Kau yang terabaikan
Kau yang terbuang
Kau yang tertinggal
Kau yang terlupakan

Jangan hempaskan resahmu di gunung

Dua Puluh Lima...

Banyak cerita yang tersisa dari suatu perjalanan, serpihan-serpihan yang terangkai dan akan terus mencari wujud hingga mencapai keutuhannya, Kesempurnaan. Ada jarak yang terlewati dalam sekat-sekat, ada waktu yang mengingatkan akan batasan-batasan ruang.

Waktu tak berputar, kawan. Waktu bergerak maju dan punya titik akhir. Waktu menegaskan jarak, tidak bergerak dalam sebuah putaran. Cukup hanya meninggalkan banyak cerita, dan membangun wujud. Tak ada ruang lagi untuk sekedar mengulang. Sekat-sekat "andai" tertinggal berbekas jadi kenang. 

Ah, jalan itu membentang, bergerak meninggalkan titik awal, jauh, semakin menjauh. Kemanapun arahnya tetap sama, kelak akan berujung nanti. Banyak, sangat banyak serpihan cerita dalam tiap sekat-sekat yang terlewati. Semua berbeda, tujuannya satu, membentuk wujud menjadi rangkaian yang utuh suatukala, tepat diujung jalan.

Diamanakah letak batas itu? Dimana jalan akan berujung? Ketika ruang dan waktu menjadi hampa, jarak dan sekat-sekat menjadi tiada. Menjadi utuh dalam wujud yang sempurna. Misteri yang tak berada dalam duga dan kira sang pejalan,Semua otoritas dan kehendak tergantung pada yang Tunggal.

Ada banyak jalan, ada banyak pilihan, ada banyak cara. Semua punya warna sendiri. Semua berbeda untuk wujud yang besar. Semua milik yang sama. Semua punya jalan masing-masing, semua punya tujuan, semua punya cerita, namun semua digariskan oleh tangan yang sama.


Dimensi,,,antara hakikat dan hasrat. Tujuan dan bayang-bayang. Asa dan usaha. Eksistensi, realitas dan ketiadaan. Terima kasih untuk-MU atas semua, untuk jalan ini, telah memberi kesempatan bercerita dalam misteri ruang dan waktu-MU. Semoga jalan itu masih panjang, dan mengisahkan cerita yang berarti, menuntun dengan cara berbeda dalam warna yang Engkau kehendaki......


21 Mei 2011

Jumat, 25 Maret 2011

Akulah Kebenaran?

Siapa kau?
dan dia berkata Akulah Ideologi..

Aku bisa jadi alasan halalnya darah tertumpah
dan sahnya perpisahan jiwa dari raga
lalu Aku berteriak dengan lantang, INILAH KEBENARAN..

Siapa kau?
Aku adalah Penguasa..

Aku bisa jadi pertanda kebenaran
dan sahnya segala tindakan serta pemilik ragamu
lalu Aku berkata, INILAH HUKUM..

Minggu, 13 Maret 2011

Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Sumber gambar:http://proggieman.wordpress.com/2009/07/27/tentang-berfikir/
George Sarton dalam bukunya History of Science sebagaimana dikutip oleh Murthada Muttahari (Manusia dan Alam Semesta) pernah mengatakan bahwa" dibidang-bidang tertentu, ilmu pengetahuan berhasil membuat kemajuan yang hebat, namun dibidang-bidang yang lain yang berkaitan dengan hubungan antar ummat manusia, misalnya dibidang politik nasional dan internasional, kita masih menertawakan diri kita".

Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa kemudahan-kemudahan dan kesenagan bagi ummat manusia. Sebuah perkembangan otak yang luar biasa. Kemajuan pesat diberbagai bidang yang hanya menghiasi imajinasi dalam mitos-mitos bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan ratusan tahun silam kini menjadi hal yang sangat biasa. Ketika saya mengatakan bahwa dari Makassar ke Jogja cuma butuh sejam lebih, ataukah teman di Makassar mengatakan sedang berbicara dengan saya yang sedang berada di Jogja. Dalam ratusan tahun yang lalu mungkin akan dianggap lelucon dan dianggap sudah tidak waras, sekarang menjadi hal biasa dan jika ada yang masih heran, itulah yang akan jadi lelucon.

Dalam beberapa tahun kedepan, entahlah keajaiban apalagi yang akan terjadi, karena manusia terus berkembang dan ilmu pengetahuan tidak membatasi ojeknya kajiannya.


Namun, segala sesuatu yang positif cenderung diikuti dengan sisi negatifnya. Kemajuan ilmu pengetahuan juga menimbulkan ekspansi dari berbagai negara (terutama negara-negara Eropa), penjajahan, pembantaian manusia kemudian perang dunia demi harta dan kekuasaan. 

Sekarang ini, timbul gejolak di timur tengah akibat disparitas antara penguasa yang diktator dan rakyatnya yang melarat. Kesenjangan akan menimbulkan gejolak, penindasan dan ketikadilan oleh rezim yang korup, sementara rakyatnya hidup dalam belenggu kebebasan dan kemiskinan. Di dalam negeri sendiri, sejak merdeka sampai sekarang kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, korupsi dan berbagai skandal lainnya masih menghiasi perjalanan bangsa ini. Memang segala kejahatan tidaklah mungkin hilang dari muka bumi ini sampai kiamat. Tapi setidaknya kejahatan tidak menjadi lebih dominan.

Uang, Kekuasaan dan Status sosial telah banyak mengganti kiblat manusia. Sebagaimana Erich Fromm dalam bukunya Psychoanalycis and Religion (dari sumber yang sama, Murthada Muttahari) mengatakan bahwa "tidak ada manusia yang tidak membutuhkan agama dan tidak menghendaki batas orientasinya dan subjek dari masa lalunya. Manusia sendiri boleh jadi tidak membedakan antara keyakinan religius dan keyakinan non religiusnya dan boleh jadi dirinya tidak beragama. Boleh jadi dia memandang fokusnya yang kelihatannya non religius seperti harta, tahta dan kesuksesan sebagai semata-mata isyarat perhatiannya kepada urusan praktis dan upaya untuk mewujudkan kesejahteraannya sendiri. Yang menjadi masalah bukanlah apakah manusia beragama atau tidak, melainkan apa agama yang dianutnya.

Sayang, kemajuan dalam hal material tidak diiringi dengan kemajuan spiritual. Ilmu pengetahuan dengan kenikmatan dan kenyamanan yang ditawarkannya membuat manusia cenderung memproyeksikan kebahagiaan lewat kesenangan (materi) sehingga arah ilmu pengetahuan lebih tertuju dalam mengejar materi. Kemanusiaan dan aspek lainnya kurang diperhatikan begitupula berbagai permasalahan lingkungan (bumi) yang terjadi dan semakin terasa dampaknya. 


Penting untuk kembali menyimak apa yang ungkapkan Einstein, "Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Jawabannya yang sederhana adalah – karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikinperangan,membikin hidup kita dikejar waktu  dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah hari-hari yang panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual, dan harus terus gemetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tak seberapa. Kamu akan mengingat tentang seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu itu, walau begitu, dengan sebuah itikad, untuk memperlihatkan sebuah akibat.
Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan. Janganlah kau lupakan hal ini ditengah tumpukan diagram dan persamaan".

Yah, bukan maksudnya untuk memaki, mencela, apalagi mengutuk ilmu pengetahuan yang luar biasa, tapi bagaimana ilmu pengetahuan tidak menjadi kutukan, melainkan ilmu pengetahuan menjadi harmoni dengan kehidupan manusia serta kemanusiaan.