Bayang-Bayang

Senin, 03 Januari 2011

Meracau

Beginilah ketika terbangun dikala pagi, meracau tidak karuan..mungkin pengaruh kafein dan nikotin yang berlomba menyusup dalam tubuhku, membuang sampah dan racun lalu pergi..tapi maaf, aku begitu menikmatinya.

Suara yang tidak kumengerti artinya, menyelinap ke telinga, beriringan dengan not-not yang juga tidak kupahami. Anehnya, sihir itu mampu menggerakkan telapak kaki tanpa kusadari, bahkan kepala kadang manggut-manggut seolah-olah paham.

Menatap dunia yang tak terbatas dalam layar yang terbatas, sangat sempit, menjelajahi alam berbeda. Begitu dekat, begitu nyata, terasa. Begitu jauh, begitu liar, terkira.

Ah, kau yang muda..kau yang senang meracau.

Selasa, 28 Desember 2010

Surga yang Suram


Tuan, dinegeriku yang di antah brantah, negeri surga dengan beribu pulau nan elok, sangat kaya dengan anugrah yang luar biasa, batu pun bisa menjelma menjadi permata, gunung-gunung,sungai-sungai,danau-danau, semua mempesona, apa yang kau cari tuan? semua ada di sini..

Tapi entah mengapa, surgaku kini suram, sangat kelabu, matahari enggan nampak..mungkin kami terlalu terbuai dengan segala nikmat, atau kami yang tak tahu menghargai dan menjaga segala nikmat, begitulah terlalu banyak yang datang membuang resahnya lalu pergi, berpaling pun tidak tuan..yang tertinggal hanyalah sampah membusuk berserakan dengan aroma menyengat dan ulat-ulat yang menjijikkan!!teramat sangat..
Lalu mereka bertengkar, bertengkar memperebutkan apa saja asal senang, selain sampah yang terbuang, menganggap semua warisan kakek neneknya..

Entahlah, tiba-tiba muncul secercah mentari, cuma secercah! para pecundang berbondong-bondong menklaim itu jasanya..terlalu banyak yang berkepentingan jadi pahlawan, semua mau jadi pahlawan..sudahlah, dinegriku sudah terlalu banyak pahlawan dan sudah terlalu banyak pula pahlawan sebenarnya yang diabaikan. Ketika secercah mentari itu meredup berbondong-bondonglah mereka mencari korban, harus ada korban! itulah cara kerja pecundang..

Kasihan mereka yang menghidupkan secercah mentari, anak-anak lugu yang dihancurkan berlahan, dipoles sedemikan rupa..Diberi beban yang tak mampu mereka bawa..
Yah, ini surga Tuan, bagi mereka para pecundang nurani..

Senin, 27 Desember 2010

Angkuh

Pernakah engkau melihat mentari tak terbit dikala pagi?
Pernakah engkau melihat air mengering di lautan?
Pernakah engkau melihat udara yang berhembus lewat hidungmu?
Pernakah engkau melihat tanah menjadi marah yang tiap saat kau injak?
Pernakah engkau melihat mereka meminta imbalan?
Tidak! aku yakin tidak!

Lalu untuk apa dan siapa semua itu?


Mungkinkah mentari suatu saat akan padam?
Air mengering dilautan?
Udara tak lagi berhembus lewat hidung?
Tanah tak lagi menumbuhkan apa-apa?
Mungkin saja! aku yakin mungkin!

Adakah yang abadi selain keabadian?
Lalu apakah yang membuatmu angkuh?
la_solucion  (gambar, kaskus)

Sabtu, 25 Desember 2010

Ingkar

Seperti waktu yang tak pernah terlambat, berjalan konstan, megikuti irama sang kala..
Laksana merpati yang tak pernah ingkar..berjalan sesuai irama..
Malam semakin larut, otak tetap beku walau nada semakin syahdu..

Sayup-sayup irama gitar agak melambat..
Subuh mulai menyapa..
Lambat laun suara gitar itu menghilang..
Terganti dengan suara azan yang menyelinap kedalam telinga..

Ada suara melantungkan ayat-ayat..
Begitu merdu memecah sunyi dalam cengkraman subuh..
Menggetarkan setiap sendi-sendi tubuh yang rapuh..
Teramat rapuh, dalam balutan tulang belulang dan kulit yang mengering..

Kotak kecil mulai penuh dengan ampas yang terbuang bersama asap yang mengepul..
Menyelimuti dinding-dinding yang membisu..
Menatap sayu gambar yang kaku disudut kamar yang sempit..
Bergeser pelan dari layar monitor yang menyita detik demi detik tiap detak jantung..

Ada suara yang sangat pelan, apakah ini mimpi? suara itu begitu halus menyapa sunyi..
Bersama lantunan ayat-ayat menghentak kebisuan disaat hening..
Begitu lambat namun jelas, merasuk begitu dalam..
"Apakah yang membuatmu enggan beranjak dari kegalauan?
"Apakah ingkar adalah seni?

Sesaat lalu menghilang..
Lalu,, sepi kembali membawa gundah..
Bertanya tentang arti semua..

Akh..
Subuh akan segera beranjak dari peraduan malam..
Tak perlu untuk menunggu..
Bukankah menunggu terkadang menyesakkan?

Jumat, 24 Desember 2010

Ironi

Dalam peluh meretas ilalang yang meneteskan embun sebelum menghilang kala sang surya muncul dicelah kabut. Ketika sekat tak membatasi yang selalu bersama ruang. Meniti setapak demi setapak menuju asa yang terkadang bias namun sang surya berlahan meninggi mengikuti jejak kabut yang beranjak pergi, menjauh dari lembah yang dingin. Otot-otot yang mengembang mengintip disela kain penutup tubuh yang telah terkoyak, menyulam detik demi detik untuk sekedar bertahan sebelum tetes keringat membuat tubuh mengering.
Semilir angin yang berhembus dari laut membawa pertanda, para petarung ombak dalam kepingan-kepingan papan menembus gelapnya malam ditengah badai ketidakpastian telah kembali. Perahu telah bersandar bersama asa disambut riang bocah-bocah yang bertelanjang dada, setidaknya perut tidak ribut dikala sang surya sudah meninggi, biarlah yang lain jadi mimpi indah yang terkadang menyesakkan.
Dalam mimpi yang tergangu nyamuk di emperan toko, ada yang terbangun bersama riuhnya kenalpot yang meninggalkan asap, riuh suara tanpa sapa, gerutu dalam riuh itu sudah biasa. Biarlah, ada mozaik yang harus dirangkai, asa tinggallah asa, tak perduli dengan apa yang akan terjadi esok, bukankah semua sama saja?
Namun, diatas kursi empuk diruang yang sejuk. Nampak gagah dengan dasi yang indah  dalam dinding dipuncak menara, ada yang sibuk menghitung laba dari tiap tetesan keringat di gunung, laut dan emperan toko. Keringat enggan keluar, terlalu sejuk dengan keramik nan indah. Muka polos seolah suci, otak brilian tanpa rasa bingung menatap kertas ajaib yang menumpuk bersama asa mereka..
gambar, google