Bayang-Bayang

Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2011

Ransel Tua dan Buku Usang..

Sumber Gambar:http://stevaniabb.blogspot.com
Dia datang seorang diri, lalu berdiri di perempatan jalan, sesekali tersenyum memandangi kendaraan yang lewat. Dengan kamera dia memotret beberapa orang yang asik berpose. Dia tak mengenal siapa mereka dan darimana, toh baginya itu tidak penting. Yang pasti dia telah sampai di kota yang selalu mengusik hatinya untuk datang. Kota yang membuatnya merasa nyaman.


Dipunggungnya bergantung ransel tua dengan beberapa buku usang di dalamnya. Terkadang terpikir olehnya untuk membuang saja buku-buku itu yang cukup membebani, tapi sayang juga, mungkin suatu saat bisa berguna, yah setidaknya mengusir rasa sepinya ketika menghujam bagai sembilu yang datangnya sering kali mendadak.


"Kemana kaki melangkah, kesitulah aku", gumannya pelan. Berlahan kakinya bergerak, beranjak menuju selatan. Langit cukup cerah, bulan dan bintang menghiasi cakrawala. Mungkin sebuah pertanda, alam semesta merestui langkanya.


Menjelang pagi dia telah berdiri di pantai, lama dia tertegun seorang diri memandangi deburan ombak. Tiba-tiba timbul gelora dalam hatinya, mungkin deburan obak merangsang pikirannya. Kemudian dia mengambil kertas dalam ranselnya dan mulai menulis, entah apa namanya, dia sendiri menganggapnya goresan.


Untukmu yang Tak Kukenal

Hari ini aku menatap karang dan ombak yang tidak pernah lelah bercengrama..
Menyaksikan air berbisik pada pasir..
Melihat karang yang setia berdiri kokoh..


Tahukah kau?
Karang itu tidak menantang ombak tapi membelainya dengan mesra agar menepi ke pantai dengan lembut..
dan, kuharap kau setabah karang di pantai selatan..


Dia melipat kertas di genggamannya dan memasukkan ke dalam ranselnya. Lalu tertegun, inilah laut yang selalu merendah, menampung segala, pikirnya. Tidak lama sang surya berlahan naik. Kakinya bergeser ke utara, dia ingin melihat tempat tinggi, disana bagaimana? Rasa penasaran merasukinya.


Beruntunglah masih ada yang bersedia memberi tumpangan dengan ramah seperti sewaktu menuju selatan. Sesampainya di Kaliurang, kiri-kanan masih terlihat dengan jelas sisa-sisa muntahan lahar, pohon-pohon tumbang dan rumah-rumah masih banyak berselimut debu.
Merapi tidak marah pikirnya, cuma mengeluarkan sebagian energinya yang terpendam untuk bisa tetap stabil. Dia tetap melangkahkan kakinya, karena yang dia dengar di perjalanan, Merapi sudah bisa di daki lagi.


Untuk mencapai ketinggian tidaklah mudah, jalanan yang menanjak cukup menguras energinya. Makin naik makin sunyi sepi, angin semakin kencang. Kakinya mulai lecet, sepatu tidak bisa menghindarkan semua masalah kaki, tapi setidaknya sangat membantu menghalangi goresan batuan tajam di perjalanan. Kadang terpikir olehnya untuk kembali, tapi toh tidak ada alasan yang cukup untuk itu, segala perbekalan dan peralatannya masih lengkap. Ah, semakin tinggi semakin banyak tantangannya jalannya pun makin berat, pikirnya, dan memang sudah begitulah hukum alam.


Menjelang senja dia duduk memandang langit. Senja yang sering membawa kesedihan diam-diam, entah mengapa dia pun tidak mengerti, banyak hal yang terasa namun tidak bisa di jelaskan, dan biarlah tetap menjadi misteri. Sepi seorang diri menatap senja kemerahan. Seolah sang surya enggan meninggalkan bumi yang bersedih. Dia lalu mengambil kertasnya dan kembali menulis.


Hujaman sepi memaksaku kembali menggoreskan tinta di buku usang,
karena kita "manusia" terkadang begitu cepat lupa..


Andaikan Kau Mau Menunggu Sebentar Saja..


Disini aku di gunung yang merenung,,hening..
Memandang dari ketinggian di tepi jurang..

Senja kali ini begitu syahdu..
Langit menguning kemerahan membawa kasih..
Sang surya dan bumi seolah enggan berpisah..

Tahukah kau?
Sang surya tak pernah ingkar janji untuk kembali esok..
dan kuharap kau sesetia bumi menunggu..


Kertas itu digenggamnnya erat-erat, hembusan angin memaksanya berpidah tempat dan menjauhi jurang yang terbuka. Kini dia bersandar di batu yang bisa melindungi tubuhnya dari angin. Tubuhnya mulai menggigil, dia kemudian mengambil dan memakai jaket, cukup untuk menahan suhu tubuhnya agar tidak terbawa angin. Lalu dia kembali menulis.


Angin itu hampir saja membawa pergi semua suhu badanku..
Terlalu lama duduk di tepi jurang yang terbuka,
Memandangi apa yang ada di bawah sana..
Aku terlalu terlena melihat keindahan..

Akh,,terkadang terselip rasa angkuh seolah pemilik segala..
Namun kuharap kau memandangnya dengan cara berbeda..


Tahukah kau?

Jurang itu seperti pujian, indah dan menyenangkan,
namun berlahan akan menjerumuskanmu dalam lembah yang sangat dalam..


Hmmm...

Tidak ada yang perlu kuceritakan terlalu banyak,
Karena ku yakin kau punya jejak dan cerita sendiri,
dengan pahit dan manisnya..


Dia berhenti menulis, lalu menarik nafas panjang. Kali ini dia menatap hamparan bintang yang entah berapa jumlahnya. Kopi dalam gelasnya tinggal ampas. Tidak terasa malam sudah larut, rasa kantuknya tiba-tiba datang. Dia pun beranjak tidur, dan berharap tidak bermimpi apa-apa. Besok dia akan kembali ke perempatan jalan, dengan ransel tua dan buku usang yang masih setia.




Rabu, 03 Agustus 2011

Sederhana Saja..

Dari huruf-huruf yang engkau rangkai satu-satu
menjadi kata-kata lalu menjelma dalam bait-bait..tuturmu lugas dalam kalimat-kalimat kemudian menjadi bab-bab dalam helai-helai kertas putih yang tipis..

aku mencintai kebebasanmu dalam tiap huruf yang tergores..aku menggilai bibirmu yang bergerak lirih dalam setiap nada yang terucap..

aku mencintai kepolosanmu menertawakan kemunafikan, aku merindukan caramu tanpa polesan yang memuakkan itu..

sederhana saja seperti angin yang yang bertiup, sejuk lalu pergi..menggerakkan rumput-rumput, menggugurkan dedaunan tua..

sederhana saja seperti huruf-huruf dari tinta murahan dalam gulungan kertas putih yang terbuang di pinggir selokan..

aku mencintai sajak-sajakmu, yang tanpa akhir..segala tentangmu..

Senin, 18 Juli 2011

Setia (janji)








huruf-huruf itu teruntai malu-malu
menjelma menjadi sajak nan syahdu
laksana air, menguap menjadi hujan
sejuk mengalir, menumbuhkan hutan-hutan

lalu...

huruf-huruf itu teruntai asal-asalan
menjelma menjadi kata tak bertuan
laksana angin, membelai sambil berlalu
sejuk berhembus, meninggalkan sembilu-pilur-pilu

lalu...
sampai kapan kau setia?
........................................................................


(sumber gambar:http://cameliabackrie.wordpress.com/about/goresan-tangan/ )

Minggu, 17 Juli 2011

Cermin (masihkah kau ingkar?)

Kau cairan kental, berjuang menembus liang gelap diantara jutaan pesaingmu, mengoyak dinding-dinding rapuh. Mendekam berbulan-bulan, berlindung dalam daging kasih sayang yang kelak akan kau dustai, menunggu Sang pemilik waktu meniupkan kehidupan..

Kau yang tak mengerti apa-apa, entah meratap atau mencibir dalam erangang keluar kekeluasan misteri. Tak ada sama, tak ada beda. Suci dari segala, tak peduli kau dari tempat siapa, dimana, oleh siapa, dan terjadi dengan cara bagaimana..

Kau yang tanpa beban, dipaksa berdiri didandani di depan cermin. Bermain, menagis, dan tertawa. Menari leluasa penuh keindahan direlung irama waktumu. Tak paham apa-apa, tak mengerti apa-apa. Bagimu dunia adalah duniamu.

Kau yang mulai menyisir rambutmu di depan cermin, sesekali mengubah mode sesuai trend, mulai melirik nakal kesana-kemari. Berharap secepatnya meninggalkan apa yang akan kau ratapi kelak untuk kembali. Ingin menjadi apa yang belum waktumu, apa yang kelak akan kau pahami..

Kau yang menatap cermin agak lama, sesekali mengetes suaramu yang terdengar sumbang. Langitpun menggantung diatasmu. Semua seolah dalam genggaman, memberontak mengikuti adrenalin, mengejar jiwamu yang berlari..

Kau yang bingung mengamati kerutan-kerutan di cermin, tak percaya, semua begitu cepat terasa. Dunia seakan sangat sempit. Mencoba bijak, terkadang penuh kepalsuan. Penuh beban, berharap kembali kekeluguan jiwamu..

Kau yang tak lagi kekar memandang dalam tanah kering di halaman rumahmu. Terpaku lama di depan cermin usang, yang tergantung lesuh di dinding rapuh. Mengingat kembali yang tak bisa kau ulang. Entahlah, apakah bahagia atau resah, di terminal kepastian yang tak jelas waktu datangnya, menunggu kembali..

Cermin (masihkah kau ingkar?)

Selasa, 07 Juni 2011

Jalan Lain..

Kita mencintai yang sama, kita menginginkan hal yg sama,tak ada pecundang apalagi pemenang. 
Tapi jika tak bisa jalan bersama maaf jika ada yang memiih jalan sendiri..

Kita menuju ke tempat yang sama tapi jalan terkadang berbeda.
Satu jalan menutup banyak hal. satu jalan tak memberi banyak ruang.
Tak ada yang lebih tak ada yang kurang tak ada yang lebih unggul dari semua.
Semua tercipta dari yang sama, semua diatur oleh yang sama..

Berbeda..cara kadang berbeda, ada yang memilih caranya sendiri.
Tak perlu kau menghakimi cara lain. Cukuplah kau bertanya jika itu perlu.
Memilih cara yang umum atau memilih cara yang tak biasa, tak perlu kau risau. 

Jalan itu terhampar dan bercabang, tapi memang diciptakan begitu.
dan ada jalan terkadang jarang dilalui.
Tak biasa, terjal dan sunyi.
Sepi, jauh dari hingar bingar..

Namun tujuan kita tetap sama.
dan berjalan di bumi yang satu..

Sabtu, 21 Mei 2011

Jangan Hempaskan Resahmu Di Gunung...

Jangan salahkan ombak di laut
Jangan sesalkan gelapnya goa
Jangan membendung arus sungai
Jangan mengutuk kerasnya tebing
Jangan mengeluhkan badai di gunung

Kau tak memiliki apa-apa
Kau tak memberi apa-apa
Kau tak menanamkan apa-apa
Kau tak meninggalkan apa-apa
Kau tak mengubah apa-apa

Kau yang terabaikan
Kau yang terbuang
Kau yang tertinggal
Kau yang terlupakan

Jangan hempaskan resahmu di gunung

Dua Puluh Lima...

Banyak cerita yang tersisa dari suatu perjalanan, serpihan-serpihan yang terangkai dan akan terus mencari wujud hingga mencapai keutuhannya, Kesempurnaan. Ada jarak yang terlewati dalam sekat-sekat, ada waktu yang mengingatkan akan batasan-batasan ruang.

Waktu tak berputar, kawan. Waktu bergerak maju dan punya titik akhir. Waktu menegaskan jarak, tidak bergerak dalam sebuah putaran. Cukup hanya meninggalkan banyak cerita, dan membangun wujud. Tak ada ruang lagi untuk sekedar mengulang. Sekat-sekat "andai" tertinggal berbekas jadi kenang. 

Ah, jalan itu membentang, bergerak meninggalkan titik awal, jauh, semakin menjauh. Kemanapun arahnya tetap sama, kelak akan berujung nanti. Banyak, sangat banyak serpihan cerita dalam tiap sekat-sekat yang terlewati. Semua berbeda, tujuannya satu, membentuk wujud menjadi rangkaian yang utuh suatukala, tepat diujung jalan.

Diamanakah letak batas itu? Dimana jalan akan berujung? Ketika ruang dan waktu menjadi hampa, jarak dan sekat-sekat menjadi tiada. Menjadi utuh dalam wujud yang sempurna. Misteri yang tak berada dalam duga dan kira sang pejalan,Semua otoritas dan kehendak tergantung pada yang Tunggal.

Ada banyak jalan, ada banyak pilihan, ada banyak cara. Semua punya warna sendiri. Semua berbeda untuk wujud yang besar. Semua milik yang sama. Semua punya jalan masing-masing, semua punya tujuan, semua punya cerita, namun semua digariskan oleh tangan yang sama.


Dimensi,,,antara hakikat dan hasrat. Tujuan dan bayang-bayang. Asa dan usaha. Eksistensi, realitas dan ketiadaan. Terima kasih untuk-MU atas semua, untuk jalan ini, telah memberi kesempatan bercerita dalam misteri ruang dan waktu-MU. Semoga jalan itu masih panjang, dan mengisahkan cerita yang berarti, menuntun dengan cara berbeda dalam warna yang Engkau kehendaki......


21 Mei 2011

Jumat, 25 Maret 2011

Akulah Kebenaran?

Siapa kau?
dan dia berkata Akulah Ideologi..

Aku bisa jadi alasan halalnya darah tertumpah
dan sahnya perpisahan jiwa dari raga
lalu Aku berteriak dengan lantang, INILAH KEBENARAN..

Siapa kau?
Aku adalah Penguasa..

Aku bisa jadi pertanda kebenaran
dan sahnya segala tindakan serta pemilik ragamu
lalu Aku berkata, INILAH HUKUM..

Kamis, 03 Maret 2011

Dia Bercerita tentang Kehidupannya

Sumber gambar: Google
Dia datang ketika aku masih tertidur, lalu dia pergi lagi dan kembali saat malam sudah menjelang. Siapakah dia? Itu tidak perlu kujelaskan, terlalu panjang dan berliku.

Tak seperti dia yang kukenal dulu saat berjumpa pertama kali di gunung Semeru, hampir tidak pernah serius dan sedikit gila-gila. Artinya tidak gila beneran, hanya kelihatan sedikit berbeda dari yang dikatakan orang kebanyakan sebagai orang normal. Namun aku tau kalau sebenarnya dia jauh lebih paham akan kehidupan dari orang yang sering dianggap normal.

Sambil memetik gitar tanpa mengeluarkan suara di mulutnya, aku menemuinya. Mencoba berbasa-basi. Diapun begitu, namun lambat laun alur mukanya kelihatan serius ketika dia mulai berbicara tentang kehidupannya.
"Aku hampir gila" begitulah dia memulai. "Aku bisa jadi kuli, tukang becak, pemulung, tapi aku tidak bisa jadi munafik! Ujarnya sekali lagi.

"Kenapa bisa? ada apa?, ujarku pura-pura mengerti.

"Aku manusia, walau tidak seperti orang kebanyakan. Aku cuma mau menjadi diri sendiri, aku tidak mau jadi orang lain. Orang tuaku menggambarkan tentang kehidupan, aku juga menggambarkan tentang kehidupan, tidak nyambung malah bertolak belakang. Ditarik jalan tengahnya justru hanya menimbulkan masalah baru. Aku tidak melawan, cuma aku tidak bisa menjalani kehidupannya. Aku memilih pergi. Aku akui aku berdosa dan aku akan belajar dari dosa-dosaku. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri".

Aku memilih diam, dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Terkadang diam dan mendengarkan menjadi pilihan terbaik.

"Aku tahu aku dilahirkan oleh ibuku, aku tahu aku keluar dari rahimnya, dan surga ada ditelapak kakinya, aku di buat dan dibesarkan oleh keduanya, aku sangat berdosa berbicara tentang kehidupan di depan keduanya. Aku terlalu angkuh dan sombong. Tapi aku tidak bisa menjalani kehidupan yang mereka gambarkan, aku tidak mau jadi gila. Aku mau jadi orang sukses, kaya dan tentunya berguna bagi orang lain tapi dengan caraku sendiri. Apakah jika berbeda dengan orang lain terutama dikatakan orang terhormat lalu aku bukan manusia?
Aku tidak menyalahkan keduanya, yah, paradigma masyarakat memang terkadang kejam!

Tak perlu kujawab, karena dia segera melanjutkan perkataannya.

Aku tidak mengerti kehidupan yang dia inginkan, mereka pun tidak bisa memahami kehidupanku. Aku dianggap membuat malu bagi keluarga. Aku menyadari jalan pikirannya, tapi mereka tidak bisa memahami jalan pikiranku. Kemudian adikku datang dan langsung memaki-maki, aku merasa sangat marah, dia bukan adik yang baik, jika makiannya untuk menjadikanku lebih baik, menasehati aku bisa terima tapi makiannya benar-benar hanya untuk menambah penderitaanku, kenapa dia tidak bertanya sebelumnya apa maumu? apa masalahmu? Aku memilih pergi, untuk menjaga nama baik keluargaku sekaligus aku bisa menjalani kehidupanku sendiri. Aku merasa sangat berdosa.

"Setelah itu, aku mau dinikahkan dengan orang yang tidak kucintai, lalu bagaimana aku bisa membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah jika aku tidak mencintainya? Kalau cuma faktor biologis, apa bedanya kalau aku ketempat-tempat pelacuran? Belajar mencintainya? Apakah cinta bisa dipelajari?
Untuk nama baik keluarga, apakah demi nama baik aku harus jadi gila dan menjadi munafik seumur hidupku?

"Dikapal, dalam perjalanan kesini aku ceritakan hal ini kepada temanku, temanku bilang kalau dia aku ini benar, tapi menurut orang lain aku ini salah. Lalu dimanakah kebenaran itu? Apakah kebenaran itu, bagaimana memperolehnya? Lalu dimana letak absolutnya? Kebenaran itu mau diapakan? Bagaimana menjalaninya?

"Aku mengakui aku salah, aku berdosa, sangat berdosa. Aku bukan pecundang yang tidak mau mengakui kesalahannya!

Kemudian dia terdiam agak lama, ketegangan nampak diwajahnya. Walau begitu nampak jelas kepuasan dalam dirinya setelah menumpahkan segala isi hatinya. Aku tak bisa berkata apa-apa, ini bukan wilayahku, aku tak bisa dan tak mau mencampuri urusan keluarganya, dia jauh lebih tua dariku. Dia cukup sadar dan dewasa untuk memilih jalan hidupnya.
Aku pamit menuju kamar, aku sengaja membiarkannya sendiri. biasanya beban yang sudah ditumpahkan butuh suasana sepi dan sendiri.

Namun kata-katanya masih terngiang dikepalaku ketika mencoba tidur dikasur yang tak lagi empuk, terutama
kata-katanya,
Aku akui aku berdosa dan aku akan belajar dari dosa-dosaku. Aku bukan pecundang yang tidak mau mengakui kesalahannya! Aku cuma tidak mau JADI MUNAFIK!

Esoknya aku terbangun, dia sudah pergi lagi..

Jumat, 21 Januari 2011

Diam !!!

Diammmm...
begitu banyak dusta dalam kata

karena kata tak lagi bisa dimengerti
kata hanyalah permainan bibir yang mengurai angka-angka
dalam untaian huruf-huruf
menjelma menjadi tipuan realita..
..Kata adalah fatamorgana..

Diam !!!
bukankah diam adalah bahasa?

Bayang-Bayang

Kau tak pernah menyukai bayang-bayang, yang menyerupai segala gerak,
menguntit kemanapun langkah, menjelma di kala terang dan menghilang kala gelap..

Kau tak mau jadi bayang-bayang, yang mengutuk kegelapan.
Tak berdaya, tak punya bentuk, selalu menyerupai objek yang bukan dirinya,
tak bisa menentukan arahnya sendiri..


Kau yang berdiri kosong di serpihan kaca..
Menatap dalam segala dusta..
Kau yang bernanah, kau yang berbalut sutra,
yang selalu merindu bayang-bayang..

Bayang-bayang yang akan selalu menyertai langkahmu..
Bagimu bayang-bayang pertanda sirnanya gelap, datangnya cahaya..

Lalu adakah yang tak punya bayang-bayang selain cahaya, kegelapan, dan bayang-bayang itu sendiri?

Jumat, 07 Januari 2011

Persepsi

Kabut pagi itu menutupi rumput liar dan pepohonan di jalan sepatak dengan jurang-jurang yang suram. Semua seolah-olah sama saja..

Tidak, kabut terlalu banyak menghalangi pandangan, semua seakan dekat yang ternyata jauh, semua seakan sama walau hakikatnya berbeda, mengaburkan yang seharusnya nampak jelas..

Berbagai argumen pun bermunculan. Para pengembara kebingungan mencari arah. Ada yang kembali, ada yang bertahan menunggu kabut berlalu, ada pula yang menerobos..

Begitulah, pandangan terkadang menentukan pilihan..

Senin, 03 Januari 2011

Meracau

Beginilah ketika terbangun dikala pagi, meracau tidak karuan..mungkin pengaruh kafein dan nikotin yang berlomba menyusup dalam tubuhku, membuang sampah dan racun lalu pergi..tapi maaf, aku begitu menikmatinya.

Suara yang tidak kumengerti artinya, menyelinap ke telinga, beriringan dengan not-not yang juga tidak kupahami. Anehnya, sihir itu mampu menggerakkan telapak kaki tanpa kusadari, bahkan kepala kadang manggut-manggut seolah-olah paham.

Menatap dunia yang tak terbatas dalam layar yang terbatas, sangat sempit, menjelajahi alam berbeda. Begitu dekat, begitu nyata, terasa. Begitu jauh, begitu liar, terkira.

Ah, kau yang muda..kau yang senang meracau.

Selasa, 28 Desember 2010

Surga yang Suram


Tuan, dinegeriku yang di antah brantah, negeri surga dengan beribu pulau nan elok, sangat kaya dengan anugrah yang luar biasa, batu pun bisa menjelma menjadi permata, gunung-gunung,sungai-sungai,danau-danau, semua mempesona, apa yang kau cari tuan? semua ada di sini..

Tapi entah mengapa, surgaku kini suram, sangat kelabu, matahari enggan nampak..mungkin kami terlalu terbuai dengan segala nikmat, atau kami yang tak tahu menghargai dan menjaga segala nikmat, begitulah terlalu banyak yang datang membuang resahnya lalu pergi, berpaling pun tidak tuan..yang tertinggal hanyalah sampah membusuk berserakan dengan aroma menyengat dan ulat-ulat yang menjijikkan!!teramat sangat..
Lalu mereka bertengkar, bertengkar memperebutkan apa saja asal senang, selain sampah yang terbuang, menganggap semua warisan kakek neneknya..

Entahlah, tiba-tiba muncul secercah mentari, cuma secercah! para pecundang berbondong-bondong menklaim itu jasanya..terlalu banyak yang berkepentingan jadi pahlawan, semua mau jadi pahlawan..sudahlah, dinegriku sudah terlalu banyak pahlawan dan sudah terlalu banyak pula pahlawan sebenarnya yang diabaikan. Ketika secercah mentari itu meredup berbondong-bondonglah mereka mencari korban, harus ada korban! itulah cara kerja pecundang..

Kasihan mereka yang menghidupkan secercah mentari, anak-anak lugu yang dihancurkan berlahan, dipoles sedemikan rupa..Diberi beban yang tak mampu mereka bawa..
Yah, ini surga Tuan, bagi mereka para pecundang nurani..

Senin, 27 Desember 2010

Angkuh

Pernakah engkau melihat mentari tak terbit dikala pagi?
Pernakah engkau melihat air mengering di lautan?
Pernakah engkau melihat udara yang berhembus lewat hidungmu?
Pernakah engkau melihat tanah menjadi marah yang tiap saat kau injak?
Pernakah engkau melihat mereka meminta imbalan?
Tidak! aku yakin tidak!

Lalu untuk apa dan siapa semua itu?


Mungkinkah mentari suatu saat akan padam?
Air mengering dilautan?
Udara tak lagi berhembus lewat hidung?
Tanah tak lagi menumbuhkan apa-apa?
Mungkin saja! aku yakin mungkin!

Adakah yang abadi selain keabadian?
Lalu apakah yang membuatmu angkuh?
la_solucion  (gambar, kaskus)

Sabtu, 25 Desember 2010

Ingkar

Seperti waktu yang tak pernah terlambat, berjalan konstan, megikuti irama sang kala..
Laksana merpati yang tak pernah ingkar..berjalan sesuai irama..
Malam semakin larut, otak tetap beku walau nada semakin syahdu..

Sayup-sayup irama gitar agak melambat..
Subuh mulai menyapa..
Lambat laun suara gitar itu menghilang..
Terganti dengan suara azan yang menyelinap kedalam telinga..

Ada suara melantungkan ayat-ayat..
Begitu merdu memecah sunyi dalam cengkraman subuh..
Menggetarkan setiap sendi-sendi tubuh yang rapuh..
Teramat rapuh, dalam balutan tulang belulang dan kulit yang mengering..

Kotak kecil mulai penuh dengan ampas yang terbuang bersama asap yang mengepul..
Menyelimuti dinding-dinding yang membisu..
Menatap sayu gambar yang kaku disudut kamar yang sempit..
Bergeser pelan dari layar monitor yang menyita detik demi detik tiap detak jantung..

Ada suara yang sangat pelan, apakah ini mimpi? suara itu begitu halus menyapa sunyi..
Bersama lantunan ayat-ayat menghentak kebisuan disaat hening..
Begitu lambat namun jelas, merasuk begitu dalam..
"Apakah yang membuatmu enggan beranjak dari kegalauan?
"Apakah ingkar adalah seni?

Sesaat lalu menghilang..
Lalu,, sepi kembali membawa gundah..
Bertanya tentang arti semua..

Akh..
Subuh akan segera beranjak dari peraduan malam..
Tak perlu untuk menunggu..
Bukankah menunggu terkadang menyesakkan?

Jumat, 24 Desember 2010

Ironi

Dalam peluh meretas ilalang yang meneteskan embun sebelum menghilang kala sang surya muncul dicelah kabut. Ketika sekat tak membatasi yang selalu bersama ruang. Meniti setapak demi setapak menuju asa yang terkadang bias namun sang surya berlahan meninggi mengikuti jejak kabut yang beranjak pergi, menjauh dari lembah yang dingin. Otot-otot yang mengembang mengintip disela kain penutup tubuh yang telah terkoyak, menyulam detik demi detik untuk sekedar bertahan sebelum tetes keringat membuat tubuh mengering.
Semilir angin yang berhembus dari laut membawa pertanda, para petarung ombak dalam kepingan-kepingan papan menembus gelapnya malam ditengah badai ketidakpastian telah kembali. Perahu telah bersandar bersama asa disambut riang bocah-bocah yang bertelanjang dada, setidaknya perut tidak ribut dikala sang surya sudah meninggi, biarlah yang lain jadi mimpi indah yang terkadang menyesakkan.
Dalam mimpi yang tergangu nyamuk di emperan toko, ada yang terbangun bersama riuhnya kenalpot yang meninggalkan asap, riuh suara tanpa sapa, gerutu dalam riuh itu sudah biasa. Biarlah, ada mozaik yang harus dirangkai, asa tinggallah asa, tak perduli dengan apa yang akan terjadi esok, bukankah semua sama saja?
Namun, diatas kursi empuk diruang yang sejuk. Nampak gagah dengan dasi yang indah  dalam dinding dipuncak menara, ada yang sibuk menghitung laba dari tiap tetesan keringat di gunung, laut dan emperan toko. Keringat enggan keluar, terlalu sejuk dengan keramik nan indah. Muka polos seolah suci, otak brilian tanpa rasa bingung menatap kertas ajaib yang menumpuk bersama asa mereka..
gambar, google

Kamis, 09 Desember 2010

Cukup Hujan yang Membasahi Bumi..


Hari ini hujan tak seperti kemarin,, agak melambat sedikit pelan..Mungkin sudah mulai bosan ataukah volume air yang hendak ditumpahkan sudah berkurang..Tak lama hujan pun mereda tanpa perlu komando.. Sudahlah, jangan lagi ada air yang jatuh selain hujan..
Pelan, kubuka kamar kosong dekat kolam dengan ikan-ikan berwarna kekuningan..Kutatap sebentar lalu kubereskan sedikit, ah dah lumayan bersih.. satu-persatu buku-buku yang hampir usang kupindahkan, meja, kursi dan bereslah semua..
Simpel dan sederhana, tempatku akan melemaskan otot-otot dan berkutat dengan buku-buku menyelesaikan apa yang seharusnya kutuntaskan..
Hujan dari tadi berlalu, tapi dinginnya tidak, ia tetap setia..
Buku-buku itu kembali kubolak-balik tak jelas, tapi tak ada gairah menyelami kedalaman isinya.. dingin tetap enggan beranjak, mengajakku terlelap, kembali bermimpi, tapi tidak! Itu nanti..
Tiba-tiba telpon gengamku berbunyi..
"Assalamualaikumm,,”
"waalikumussalam” sedikit bersemangat walau agak dipaksakan..
”kamu baik-baik saja? Katanya sepupumu, kamu habis maen ke Pulau Dewata ya? Wah..jantung berdetak kencang, akh ketahuan juga..
”iya, jalan-jalan”..
”berapa lama disana? Sama siapa?...
"satu mingguan, sama temen ehehe”..
”ooh, kapan-kapan pulanglah dulu, dah berapa bulan dak pulang”..
“nantilah, masih sibuk nih"..
Sesaat tak ada suara..”kamu baik-baik saja kan, katanya habis sakit? Suara itu berubah agak parau,, 
“iya, udah sehat sekali kok, aku ga apa-apa”..
”duitmu gimana? Kamu makan apa? Kalo butuh bilang aja” ..
“masih-masih, cukuplah beberapa hari, tapi ga bakalan nyampe bulan depan”..
"mau di tambah berapa?bilang aja”..
”berapa-berapalah, seadanya” bukan bijak cuma ga enak..
”oke nanti tak kirim, kapan-kapan pulanglah kami rindu,..” 
"nanti deh, urus tugas akhir dulu”.. teringat tujuh kurcaci-kurcaci mungil yang hampir semua seumuran, dah mulai nakal dengan senyum polos selalu menyambutku bila pulang..kusebut mereka ponakanku..
Agak lama, lalu..“ooh, oke-oke sudah dulu yah, baik-baik disana, Assalamualaikum” suara yang tadi parau kini agak tidak jelas, ada isak di ujung telpon..
”iye,, waalaikumussalam” ucapku kaku..
Akhhhh..ada lagi air yang jatuh ke bumi disebrang pulau sana, kali ini bukan tetesan hujan walau dinginnya sama terasa disini..
Lagi-lagi air matamu terjatuh ke bumi ini, Maaf Bu’ walau kau tak mendengarnya lagi, kutau Engkau merindu, aku pun sama””.. Karena Ada asa menggantung dilangit..
Akh,, cukuplah air hujan yang membasahi bumi, jangan lagi ada yang lain “maaf Bu..”
...Maafkan daku lelaki lelaki tunggal kebanggaanmu yang keras kepala...


Rabu, 08 Desember 2010

Aku Tak Bersama Angin..

Di suduk kamar dengan alaunan musik yang tak menghentak, menantap dalam kaleng-kaleng kosong
yang berserakan. Kepulan asap seperti kabut menyelimuti, sedikit terbuang lewat jendela yang terbuka separuh.

Teringat pasir-pasir yang berserakan dengan tiupan angin menuju atapmu. Angin yang hampir saja menerbangkan tubuh kurus ini menuju lembah_MU yang dalam, lalu? akh aku tak suka mengenang,
karena katanya mengenang adalah tugas sejati para pecundang. Tapi biarlah kali ini,,aku jadi pecundang.

Aku terlalu rendah untuk jadi penakluk, biarlah aku belajar menaklukkan diriku sendiri..

Mimpi? yah, dulu ini mimpiku,
sekarang tidak lagi, ini nyata!
Lalu kembali aku bermimpi, karena seperti katamu, berawal dari mimpi lalu wujudkan..
Akh, retorika, lagi-lagi retorika. Bukankan dunia banyak berubah karena retorika?

Aku tak pernah enggan bercengkrama dengan siapa pun, kerena memang indah menjadi manusia dengan kebebasan yang diberikan oleh-NYA.. Terima kasih, cuma itu yang bisa kukatakan karena ku yakin Engkau tak butuh apa-apa termasuk balasan. Engkau Ikhlas, aku pun belajar dan belajar untuk itu..Semoga..

Aku tak pergi bersama angin, satu dunia, anak semua bangsa. Aku pergi bersama saudaraku,
saudaraku yang jauh seperti halnya saudara-saudaraku yang lain termasuk engkau jika tak enggan,
karena aku tak pernah membedakan saudara-saudaraku. entah siapa dan dari mana..

Kuyakin engkau pun tak sendiri, banyak yang bersedia bersamamu bernyanyi, terbang mengarungi kebebasan..

Aku berbagi, belajar bersama mereka, kaupun begitu cuma berbeda alam..
Terimakasih atas doa dan seyum yang menghantarku pergi, aku pun tahu itu, tapi,
selanjutnya ada kata yang tak terbahasakan..

Sesaat angin berhembus lewat jendela yang terbuka setengah, mungkin mengajakku beranjak, tapi tidak
aku disini, mencoba menyelesaikan apa yang telah kumulai, walau agak telat,, "maaf" Ayah Bunda, walau
engkau tak pernah memaksakan apapun untukku, itulah Cintamu dalam C besar"""membebaskan""

Alunan lagu jadi syahdu,
angin pun hanya bertiup sepoi-sepoi,
asap berlalu, menjauh pergi.
Tidak,, Aku tetap disini..

Senja..seperti biasa

Sesaat terlupa dalam rentang waktu
ada jarak dalam tiap detik
singkat dan tak jelas
seperti senja berganti malam
berlalu membawa sedih yang diam-diam
dan seperti biasa, tak terjelaskan

Biarlah, ketika subuh kau terganti
tak perlu merajuk untuk bertahan
pergilah sejauh yang kau mau
bukankah esok senja akan kembali
dengan kesedihan yang sama?
lalu kembali terlupa kala subuh
seperti biasa...