Kamis, 12 April 2012
Satu Helai Daun yang Menunggu Angin
Sore ini ada angin, hujan, dan bau tanah. Aku hendak pergi lalu seseorang menahanku dan berkata, tunggulah sebentar sehabis hujan akan ada pelangi dan jingga di ujung cakrawala.
Satu helai daun gugur dari tangkai pohon yang menari, lepas melayang bersama angin. Rintik hujan masih setia, membelai tanah yang dilanda hasrat, aromanya tak bisa berdusta. Perasaan bercampur aduk mengikuti irama alam, syahdu, sedih, hampa, berkecamuk menjadi satu. Bukankah semua bermuara dari satu?
Ah,, bau tanah begitu menyengat, mungkin ia pun paham suatu saat akan dirindukan pada tahun tahun yang belum tiba.
Apakah satu helai daun itu menunggu angin untuk membebaskan dia dari belenggu tangkainya?
Tidak, angin tidak membebaskan satu helai daun dari belenggu tangkai, angin hanya sebuah alasan. Seperti jingga dan pelangi yang menahanmu disini.
Hujan berlahan pergi, pelangi nampak samar, jingga muncul pelan pelan.
Minggu, 11 Maret 2012
Pintu..
Kau datang dengan muka kelam dan lusuh, matahari tak memandang siapa untuk menghanguskan serta angin enggan untuk tak bergerak hanya untukmu.
Lama kau berdiri di depan pintu, menatap celah-celah yang rapuh. Tiba-tiba kau menghilang lalu membuka jendela tanpa mengetuk.
Dan kau berkata, "Aku tlah letih namun aku enggan mengetuk pintu walau kutau kau menunggu, seharusnya kau membuka sendiri karena kau tau aku berdiri diluar. Apakah semua harus terjelaskan dengan simbol-simbol?"
Aku tetap diam, dan kau kembali berkata, ".Aku paham, kau sadar aku tak suka batas dan pintu tak berarti batas melainkan untuk menahan terpaan angin. Mungkin kau bertanya mengapa aku enggan membuka sendiri? Kaupun paham".
"baiklah kalau kau masih membisu, aku akan bicara sesuatu yang lain, karena semua akan berubah setelah itu. Ini semua bukan tentang cinta, rasa atau sekedar ambisi yang tidak kita mengerti, ini bukan tentang apa-apa. "kita" hanya sering berjuang mengusir kehampaan dengan cara kasar. "kita' memang pecundang, begitulah menurut yang lain dan mungkin bagiku tapi kau memilih begitu. "kita" gelisah, selalu gelisah dan ketakutan dalam pengembaraan karena "kita" selalu memproyeksikan diri di luar diri. Terkadang kita begitu terlena mengejar angin".
Kau pergi, aku masih terdiam..
Lama kau berdiri di depan pintu, menatap celah-celah yang rapuh. Tiba-tiba kau menghilang lalu membuka jendela tanpa mengetuk.
Dan kau berkata, "Aku tlah letih namun aku enggan mengetuk pintu walau kutau kau menunggu, seharusnya kau membuka sendiri karena kau tau aku berdiri diluar. Apakah semua harus terjelaskan dengan simbol-simbol?"
Aku tetap diam, dan kau kembali berkata, ".Aku paham, kau sadar aku tak suka batas dan pintu tak berarti batas melainkan untuk menahan terpaan angin. Mungkin kau bertanya mengapa aku enggan membuka sendiri? Kaupun paham".
"baiklah kalau kau masih membisu, aku akan bicara sesuatu yang lain, karena semua akan berubah setelah itu. Ini semua bukan tentang cinta, rasa atau sekedar ambisi yang tidak kita mengerti, ini bukan tentang apa-apa. "kita" hanya sering berjuang mengusir kehampaan dengan cara kasar. "kita' memang pecundang, begitulah menurut yang lain dan mungkin bagiku tapi kau memilih begitu. "kita" gelisah, selalu gelisah dan ketakutan dalam pengembaraan karena "kita" selalu memproyeksikan diri di luar diri. Terkadang kita begitu terlena mengejar angin".
Kau pergi, aku masih terdiam..
Kamis, 01 Maret 2012
Tuhanku...
Dalam hening aku bersujud..
Dalam nafas aku berserah..
Tiap langkah adalah doa..
Tiap tempat adalah surga-Mu..
Dalam nafas aku berserah..
Tiap langkah adalah doa..
Tiap tempat adalah surga-Mu..
Selasa, 07 Februari 2012
Kerinduan...
Lama tidak tidak berkicau di blog ini, terakhir oktober 2011, berarti sudah kurang lebih tiga bulan. Pura-pura sibuk selalu jadi alasan yang tepat untuk mengaburkan kesan malas.
Jarak waktu tiba-tiba mengalahkan alasan tidak mood dan tidak ada ide, walau hanya sekedar melepaskan kerinduan untuk kembali menyusun huruf-huruf walau ujung-ujungnya tidak jelas bentuknya.
Jarak dan waktu biasanya menegaskan dua hal "rindu" dan "lupa" (ada yang merindukan dan ada yang melupakan hahaha). Jarak dan waktu sering membuat sesuatu menjadi "bias". Anggap saja kicauan yang tidak jelas ini adalah usaha untuk melawan lupa. Bukankah penyakit lupa sering ngetren di kalangan pejabat kita?
Ah, biarlah rindu menjadi milik kita, rindu akan janji. Bukankah rindu terkesan seksi?
Waktu memang tidak bisa di putar, di ulang dan dikembalikan. Tapi waktu bisa membuat jarak semakin dekat bisa pula membuat jarak semakin jauh. Entahlah mau mendekat atau menjauh, perjalanan memang sering memberikan banyak pilihan. Perjalanan juga tidak pernah "lupa" mengajarkan banyak hal.
Setidaknya perjalanan mengajari tentang kerinduan,
bahwa terkadang, semakin jauh kaki melangkah semakin besar kerinduan untuk kembali........
Sumber gambar: http://www.facebook.com/note.php?note_id=181270965229549
Jarak waktu tiba-tiba mengalahkan alasan tidak mood dan tidak ada ide, walau hanya sekedar melepaskan kerinduan untuk kembali menyusun huruf-huruf walau ujung-ujungnya tidak jelas bentuknya.
Jarak dan waktu biasanya menegaskan dua hal "rindu" dan "lupa" (ada yang merindukan dan ada yang melupakan hahaha). Jarak dan waktu sering membuat sesuatu menjadi "bias". Anggap saja kicauan yang tidak jelas ini adalah usaha untuk melawan lupa. Bukankah penyakit lupa sering ngetren di kalangan pejabat kita?
Ah, biarlah rindu menjadi milik kita, rindu akan janji. Bukankah rindu terkesan seksi?
Waktu memang tidak bisa di putar, di ulang dan dikembalikan. Tapi waktu bisa membuat jarak semakin dekat bisa pula membuat jarak semakin jauh. Entahlah mau mendekat atau menjauh, perjalanan memang sering memberikan banyak pilihan. Perjalanan juga tidak pernah "lupa" mengajarkan banyak hal.
Setidaknya perjalanan mengajari tentang kerinduan,
bahwa terkadang, semakin jauh kaki melangkah semakin besar kerinduan untuk kembali........
Sumber gambar: http://www.facebook.com/note.php?note_id=181270965229549
Senin, 31 Oktober 2011
Sore Itu di Perempatan Jalan..
![]() |
| Sumber Gambar: Google |
Sembari berpakaian, sesekali dia melirik jam penanda sang waktu tergantung di dinding yang menutupi lubang bekas paku. 07.37 tertunjuk pada jarum pendek jam tersebut. Tanpa bercermin dia lalu mengambil tas kecil yang didalamnya sudah terdapat beberapa buah buku. Hari itu dia mau mengikuti seminar yang diadakan di kampusnya. di undangan tertulis "acara dimulai pukul 08.30".
Sesampainya di tempat seminar, ternyata acara belum dimulai, dia memilih duduk di tangga dekat tempok yang agak sepi sambil menghempaskan nikotin bercampur asap ke udara setelah melewati paru-parunya. Seorang laki-laki paruh baya mendekatinya dan meminta korek. Yah, sesama penikmat asap biasanya saling mendekati.
"belum mulai yah dek? ucap laki-laki paruh baya itu memulai percakapan.
"belum pak, mungkin sebentar lagi".
"dari instansi mana dek?
"masih kuliah pak, belum kerja" guman dia pelan..Status mahasiswa memang menyenangkan, selalu banyak alasan yang bisa dimunculkan dan titel ini bisa jadi tameng yang ampuh.
Tidak lama panggilan pun terdengar agar memsuki ruangan. Percakapan itu terhenti. Dia dan laki-laki paruh baya tersebut memasuki ruangan tetapi mengambil tempat duduk yang berbeda jarak.
Seminar yang bertemakan pancasila dan konstitusi negara ini agak lain dari biasanya. Biasanya di penuhi orang-orang tua yang beruban kini mulai nampak yang muda-muda. Sejenak matanya dia arahkan ke sekeliling ruangan lalu terhenti. Sesuatu yang lembut dan bening nampak di sudut ruangan yang berjenis kelamin lain. Tanpa dia sadari, perhatiannya lebih tertuju ke sudut ruangan itu, mungkin sudah bosan dengan semua teori-teori yang membosangkan. Dan yang di sudut itu pun sangat menyadari kelebihannya fisiknya yang lagi asik menjadi pembicara ke teman-teman sekitarnya tanpa sekali pun memperhatikan narasumber sesungguhnya. Mungkin seminar lagi ngetren atau sekedar memenuhi kuota sertifikat.
Kini pendengarannya dipenuhi kata-kata syurga, ketuhanan, keadilan, kemanusiaan menggema di ruangan itu, perdebatan sesekali terdengar, ada yang optimis ada yang pesimis, kritik, saran dan macam-macamnya, toh itulah demokrasi pikirnya. Yah, demokrasi itu akan selalu menjadi riuh, semua berhak berpendapat bahkan menhujat pun tak lagi bisa dibedakan dengan mengkritik.
Seperti seminar-seminar yang lain, tumpukan makalah, pembicara yang rapi dan peserta yang kadang ributnya melebihi pembicara, menjadi hal yang biasa. Tumpukan kertas dan kata-kata yang indah melayang-layang, dan biasanya berakhir pula begitu acara berakhir. Seperti obrolan di warung kopi yang berakhir ketika kopi telah tandas.
Waktu dari pagi hingga sore, dipenuhi kata-kata begitu melelahkan walaupun sempat istirahat waktu ishoma.
15.00 tertunjuk di jam dinding ruangan itu. Waktu adalah pertanda. Artinya 15.00 seminar itu berakhir, dia pun bergegas mengambil motor buntutnya, tidak sabar lagi untuk kembali.
Tepat di depan tempat seminar tadi ada perempatan lampu merah, dia pun berhenti ketika lampu merah menyala, mungkin takut kena tilang. Warna adalah isyarat!
Masih terngiang di telinganya tentang ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial di telinganya. Maklum, kata-kata tadi sering sekali di ulang-ulang bahkan dari SD sampai SMA tiap hari senin di bacakan. Tiba-tiba ada yang menyentuh lengannya dan di telinganya terdengar kata-kata "pak-pak tolong beri sedikit bantuan pak,". Dia pun menoleh dan melihat seorang pengemis tua menggendong anaknya meminta belas kasihan.
Lampu merah berganti hijau, sekali lagi warna adalah isyarat walau semua warna dasarnya sama saja. Dia lalu memutar gas motornya, berbelok ke kanan menuju pulang.
Langganan:
Postingan (Atom)


